Service
Service ada beberapa macam:
1 Service atas. Adalah service dengan awalan melemparkan bola ke atas seperlunya. Kemudian Server melompat untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari atas.
2 Service bawah. Adalah service dengan awalan bola berada di tangan yang tidak memukul bola. tangan yang memukulbola beriap dari belakang badan untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari bawah.
3 Service mengapung. Adalah service atas dengan awalan dan cara memukulyang hampir sama. awalan service mengapung adalah melemparkan bola ke atas namun tidak terlalu tinggi ( tidak terlalu tinggi dari kepala ). Tangan yang akan memukul bola bersiap di dekat bola dengan ayunan yang sangat pendek.
yang perlu diperhatikan dalam service
• Sikap badan dan pandangan
• Lambung keatas harus sesuai dengan kebutuhan.
• Saat kapan harus memukul Bola.
Service dilakukan untuk mengawali suatu pertandingan voli
Passing
• Passing Bawah ( Pukulan/penganmbilan tangan kebawah )
Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
tangan dirapatkan, satu dengan yang lain dirapatkan.
Gerakan tangan disesuaikan dengan keras/lemahnya kecepatan bola.
• Passing Keatas ( Pukulan/penganmbilan tangan keatas )
Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
Badan sedikit condong kemuka, siku ditekuk jari-jari terbuka membentuk lengkungan setengah bola.
Ibu jari dan jari saling berdekatan membentuk segitiga.
Penyentuhan pada semua jari2 dan gerakannya meluruskan kedua tangan
Smash (spike)
Dengan membentuk serangan pukulan yang keras waktu bola berada diatas jaring, untuk dimasukkan ke daerah lawan. Untuk melakukan dengan baik perlu memperhatikan faktor-faktor berikut: awalan, tolakan, pukulan, dan pendaratan.
Membendung (Bloking)
Dengan daya upaya di dekat jaring untuk mencoba menahan/menghalangi bola yang datang dari daerah lawan. Sikap memblok yang benar adalah:
a.Jongkok, bersiap untuk melompat.
b.Lompat dengan kedua tangan rapat dan lurus ke atas.
c.Saat mendarat hendaknya langsung menyingkir dan memberi kesempatan pada kawan satu regu untuk bergantian memblok.
Kamis, 11 November 2010
Rabu, 27 Oktober 2010
Libero dalam Permainan Bola Volley
Sejak pertamakali libero diperkenalkan pada permainan bolavoli tahun 1997, banyak reaksi yang muncul ada yang setuju dan ada yang tidak. Masing-masing kelompok mengajukan berbagai macam argumentasi mulai dari yang irasional maupun yang rasional. Bagi yang alergi perubahan dan hanya mengedapankan pada sikap emosional, kehadiran libero dipandang sebagai sesuatu bentuk kegagalan dalam pembinaan yang tidak dapat memberikan seluruh dasar-dasar teknik kepada setiap pemain sampai pada
tingkat mahir.
Sedangkan bagi kelompok yang selalu menginginkan adanya inovasi,
kehadiran libero dalam permainan bolavoli merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu
agar permainan menjadi lebih menarik dan lebih dapat memainkan emosi bagi para
penonton karena penonton disuguhi permainan tingkat tinggi dengan waktu reli yang
relatip lebih lama. Tanpa perlu mendukung yang kontra maupun pro, sejak keberadaan
pemain libero diatur dalam peraturan resmi FIVB tahun 2001 – 2004 pada bab 6
pasal 20 ayat 1, 2 dan 3, mau tidak mau, suka tidak suka, komunitas bolavoli di seluruh dunia harus menerima dan menjalankannya.
Penggunaan libero secara resmi pada kompetisi yang diselenggarakan oleh
PP PBVSI adalah ketika livoli di gelar untuk yang pertamakalinya tahun 1999. Sedangkan untuk tim nasional pertama kali menerapkan libero pada kejuaraan Asia Pasific di Fukuoka tahun 1999 yang dilanjutkan di Tehran,Iran pada Kejuaraan Asia. Sedangkan pada tahun 1998 pada Asian Games di Thailand Indonesia merupakan satu-satunya peserta yang belum menggunakan libero. Namun demikian mulai sejak diperkenalkan hingga saat ini, fungsi
libero dalam setiap kejuaraan yang dilangsungkan di Indonesia (kecuali
pada Proliga dan Livoli) belum seperti yang diharapkan. Hal ini terbukti dengan sering dijumpainya pemain yang ditunjuk sebagai libero merupakan pemain yang memiliki kualitas teknik paling rendah dibandingkan dengan keseluruhan anggota tim. Dengan demikian kehadirian libero di dalam tim itu hanya sebagai pelengkap atau pemanis sehingga tidak pernah difungsikan atau dimainkan ketika timnya sedang bertanding. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pelatih dan seluruh komponen pada tim itu belum sepenuhnya mengerti dan memahami akan makna serta fungsi kehadiran libero dalam sebuah tim.
Ketika bolavoli berubah dari aktivitas olahraga rekreatif menjadi olahraga kompetitif, semua orang menyadari bahwa serangan dalam
permainan bolavoli lebih dominan dibandingkan dengan pertahanan. Untuk itu diperlukan usaha-usaha agar dominasi serangan dapat diseimbangkan dengan pertahanan, caranya adalah dengan mengubah peralatan dan
peraturan permainan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pertahanan sehingga permainan akan menjadi lebih menarik. Namun demikian usaha untuk meningkatkan pertahanan dalam pelaksanaan perkembangannya akan selalu tertinggal dibandingkan dengan tingkat kemajuan pada penyerangan.
Hal ini disebabkan serangan merupakan salah satu teknik yang paling menarik dalam permainan bolavoli. Sehingga pelatih dan atlet akan selalu berusaha untuk mengembangkan teknik serangan dengan tanpa didasari adanya rasa bosan dalam melakukannya. Disamping itu tingkat perkembangan serangan akan berjalan linier terhadap peningkatan kualitas biomotor atlet akibat meningkatnya kualitas latihan beban (weight training).
Penggunaan pemain libero yang berfungsi sebagai pemain bertahan memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kualitas pertahanan baik pada saat menerima servis maupun pada saat bertahan terhadap smes yang dilakukan oleh lawan. Pada bab enam pasal 20.3.1.2. dijelaskan bahwa peran pemain libero terbatas sebagai pemain baris belakang dan tidak diizinkan untuk melakukan serangan dari manapun termasuk di lapangan permainan dan daerah bebas, jika pada saat kontak dengan bola, seluruh ketinggian bola lebih tinggi dari permukaaan net. Disamping itu pada pasal 20.3.1.3. dijelaskan pemain libero tidak diperkenankan untuk serve, blok, atau mencoba untuk memblok. Sedangkan pada pasal 20.3.1.4. mengatur bagaimana pemain lain tidak diperkenankan untuk melakukan pukulan serang di atas net bila bola berasal dari pass atas pemain libero di daerah serang.
Bola dapat dengan bebas diserang, jika libero melakukan tindakan yang sama dari belakang daerah serang. Dari peraturan-peraturan
tersebut menunjukkan bahwa peran pemain libero memang disetting sebagai pemain
bertahan atau dengan kata lain untuk meningkatkan pertahanan. Dengan meningkatnya pertahanan, persentase serangan juga akan menjadi meningkat dan kombinasi serangan akan menjadi lebih beragam. Pada permainan bolavoli modern, dimana servis banyak dilakukan dengan cara melompat atau hampir menyerupai dengan teknik smes, maka lintasan bola akan sangat dipengaruhi oleh kerasnya pukulan dan cepatnya putaran bola. Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa untuk mencari receiver terbaik dalam sebuah kejuaraan lebih sulit dibandingkan mencari smasher terbaik. Mengingat teknik pasing sangat mengandalkan ketepatan penempatan posisi badan terhadap bola dan tingginya rasa gerak, maka diperlukan pemain yang memiliki keterampilan untuk memainkan bola tersebut. Keuntungan lain dengan menggunakan libero adalah bahwa pergantian yang dilakukan tidak tercatat secara resmi sebagai pergantian. Libero bebas menggantikan siapa saja dan kapan saja dengan catatan diantara pergantian tersebut minimal harus diselang dengan satu kali reli. Oleh karena itu merupakan kerugian yang sangat besar bila ada tim yang tidak mengoptimalkan libero dalam setiap pertandingan yang dilakukan. Selama pelaksanaan proliga belum pernah ada kasus-kasus spesifik yang menyangkut libero. Namun demikian bila libero sewaktu dalam pertandingan mengalami cedera. pelatih dapat menunjuk pemain lain untuk menjadi libero pada sisa pertandingan tersebut dan libero yang cedera tidak dapat masuk kembali untuk bermain pada sisa pertandingan itu.
Dari sedikit uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa libero dalam permainan bolavoli diperlukan agar efektivitas pertahanan menjadi lebih meningkat, sehingga pertandingan akan menjadi lebih menarik karena meningkatnya jumlah reli dan pada akhirnya penonton mau berduyun-duyun ke tempat-tempat pertandingan bolavoli.
tingkat mahir.
Sedangkan bagi kelompok yang selalu menginginkan adanya inovasi,
kehadiran libero dalam permainan bolavoli merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu
agar permainan menjadi lebih menarik dan lebih dapat memainkan emosi bagi para
penonton karena penonton disuguhi permainan tingkat tinggi dengan waktu reli yang
relatip lebih lama. Tanpa perlu mendukung yang kontra maupun pro, sejak keberadaan
pemain libero diatur dalam peraturan resmi FIVB tahun 2001 – 2004 pada bab 6
pasal 20 ayat 1, 2 dan 3, mau tidak mau, suka tidak suka, komunitas bolavoli di seluruh dunia harus menerima dan menjalankannya.
Penggunaan libero secara resmi pada kompetisi yang diselenggarakan oleh
PP PBVSI adalah ketika livoli di gelar untuk yang pertamakalinya tahun 1999. Sedangkan untuk tim nasional pertama kali menerapkan libero pada kejuaraan Asia Pasific di Fukuoka tahun 1999 yang dilanjutkan di Tehran,Iran pada Kejuaraan Asia. Sedangkan pada tahun 1998 pada Asian Games di Thailand Indonesia merupakan satu-satunya peserta yang belum menggunakan libero. Namun demikian mulai sejak diperkenalkan hingga saat ini, fungsi
libero dalam setiap kejuaraan yang dilangsungkan di Indonesia (kecuali
pada Proliga dan Livoli) belum seperti yang diharapkan. Hal ini terbukti dengan sering dijumpainya pemain yang ditunjuk sebagai libero merupakan pemain yang memiliki kualitas teknik paling rendah dibandingkan dengan keseluruhan anggota tim. Dengan demikian kehadirian libero di dalam tim itu hanya sebagai pelengkap atau pemanis sehingga tidak pernah difungsikan atau dimainkan ketika timnya sedang bertanding. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pelatih dan seluruh komponen pada tim itu belum sepenuhnya mengerti dan memahami akan makna serta fungsi kehadiran libero dalam sebuah tim.
Ketika bolavoli berubah dari aktivitas olahraga rekreatif menjadi olahraga kompetitif, semua orang menyadari bahwa serangan dalam
permainan bolavoli lebih dominan dibandingkan dengan pertahanan. Untuk itu diperlukan usaha-usaha agar dominasi serangan dapat diseimbangkan dengan pertahanan, caranya adalah dengan mengubah peralatan dan
peraturan permainan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pertahanan sehingga permainan akan menjadi lebih menarik. Namun demikian usaha untuk meningkatkan pertahanan dalam pelaksanaan perkembangannya akan selalu tertinggal dibandingkan dengan tingkat kemajuan pada penyerangan.
Hal ini disebabkan serangan merupakan salah satu teknik yang paling menarik dalam permainan bolavoli. Sehingga pelatih dan atlet akan selalu berusaha untuk mengembangkan teknik serangan dengan tanpa didasari adanya rasa bosan dalam melakukannya. Disamping itu tingkat perkembangan serangan akan berjalan linier terhadap peningkatan kualitas biomotor atlet akibat meningkatnya kualitas latihan beban (weight training).
Penggunaan pemain libero yang berfungsi sebagai pemain bertahan memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kualitas pertahanan baik pada saat menerima servis maupun pada saat bertahan terhadap smes yang dilakukan oleh lawan. Pada bab enam pasal 20.3.1.2. dijelaskan bahwa peran pemain libero terbatas sebagai pemain baris belakang dan tidak diizinkan untuk melakukan serangan dari manapun termasuk di lapangan permainan dan daerah bebas, jika pada saat kontak dengan bola, seluruh ketinggian bola lebih tinggi dari permukaaan net. Disamping itu pada pasal 20.3.1.3. dijelaskan pemain libero tidak diperkenankan untuk serve, blok, atau mencoba untuk memblok. Sedangkan pada pasal 20.3.1.4. mengatur bagaimana pemain lain tidak diperkenankan untuk melakukan pukulan serang di atas net bila bola berasal dari pass atas pemain libero di daerah serang.
Bola dapat dengan bebas diserang, jika libero melakukan tindakan yang sama dari belakang daerah serang. Dari peraturan-peraturan
tersebut menunjukkan bahwa peran pemain libero memang disetting sebagai pemain
bertahan atau dengan kata lain untuk meningkatkan pertahanan. Dengan meningkatnya pertahanan, persentase serangan juga akan menjadi meningkat dan kombinasi serangan akan menjadi lebih beragam. Pada permainan bolavoli modern, dimana servis banyak dilakukan dengan cara melompat atau hampir menyerupai dengan teknik smes, maka lintasan bola akan sangat dipengaruhi oleh kerasnya pukulan dan cepatnya putaran bola. Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa untuk mencari receiver terbaik dalam sebuah kejuaraan lebih sulit dibandingkan mencari smasher terbaik. Mengingat teknik pasing sangat mengandalkan ketepatan penempatan posisi badan terhadap bola dan tingginya rasa gerak, maka diperlukan pemain yang memiliki keterampilan untuk memainkan bola tersebut. Keuntungan lain dengan menggunakan libero adalah bahwa pergantian yang dilakukan tidak tercatat secara resmi sebagai pergantian. Libero bebas menggantikan siapa saja dan kapan saja dengan catatan diantara pergantian tersebut minimal harus diselang dengan satu kali reli. Oleh karena itu merupakan kerugian yang sangat besar bila ada tim yang tidak mengoptimalkan libero dalam setiap pertandingan yang dilakukan. Selama pelaksanaan proliga belum pernah ada kasus-kasus spesifik yang menyangkut libero. Namun demikian bila libero sewaktu dalam pertandingan mengalami cedera. pelatih dapat menunjuk pemain lain untuk menjadi libero pada sisa pertandingan tersebut dan libero yang cedera tidak dapat masuk kembali untuk bermain pada sisa pertandingan itu.
Dari sedikit uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa libero dalam permainan bolavoli diperlukan agar efektivitas pertahanan menjadi lebih meningkat, sehingga pertandingan akan menjadi lebih menarik karena meningkatnya jumlah reli dan pada akhirnya penonton mau berduyun-duyun ke tempat-tempat pertandingan bolavoli.
Jumat, 22 Oktober 2010
Madusari cup ke 2 tahun 2010
GALLERY FOTO MADUSARI CUP 2010
CLUB FINALIS MADUSARI CUP 2010
SUPORTER
PENYERAHAN TROPY MADUSARI CUP 2010
LIHAT SELENGKAPNYA >>>
PANITIA MADUSARI CUP 2010
CLUB FINALIS MADUSARI CUP 2010
SUPORTER
PENYERAHAN TROPY MADUSARI CUP 2010
LIHAT SELENGKAPNYA >>>
Tips Memilih Sepatu Olahraga
Jangan anggap sepatu olahraga yang biasa Anda pakai jalan-jalan juga cocok buat dipakai berolahraga. Salah-salah pakai, bisa-bisa malah kaki Anda yang dibawa jalan-jalan ke rumah sakit.
Berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa dijadikan acuan dalam memilih sepatu untuk berolahraga:
Jangan bikin sepatu multifungsi.
Sepatu untuk jalan biasanya lebih keras/padat; sepatu untuk olahraga (lari) lebih fleksibel, dengan bantalan ekstra untuk meredam efek getaran. Untuk kedua aktivitas itu, belilah masing-masing sepasang.
Ukur kaki secara berkala.
Jangan dikira ukuran kaki tidak berubah setelah dewasa. Menurut penelitian, makin hari ukuran kaki seseorang bisa berubah. Cek ulang ukuran kaki Anda minimal dua kali setahun.
Beli setelah beraktivitas.
(Ukuran) Kaki bisa berkembang tergantung pada aktivitas. Usahakan membeli sepatu ketika kaki dirasakan sedang dalam ukuran terbesarnya.
Bawa kaos kaki.
Karena kaos kaki menyempurnakan kenyamanan memakai sepatu, bawa kaos kaki yang biasa Anda pakai sehingga sepatu yang dijajal di toko pas dengan yang akan Anda pergunakan.
Jangan langsung merasa enak.
Jangan langsung jatuh hati pada sepatu yang ingin Anda beli hanya dengan mencobanya di depan cermin. Pakai dulu berjalan atau berlari di sekitar toko biar betul-betul enak memakainya saat berolahraga.
Sesuaikan aturan ibu jari.
Perhatikan jarak ideal sepatu dengan ibu jari kaki, punggung kaki, dan tumit kaki. Kalau terlalu longgar tentu akan selip, tapi terlalu ketat juga bisa bikin lecet.
Money doesn't lie.
Kebutuhan dan anggaran setiap orang untuk membeli sepatu olahraga pasti berbeda-beda. Tapi percaya deh, barang yang harganya Rp 50 ribu tentu berbeda kualitasnya dengan yang Rp 500 ribu.
Perhatikan kapan harus mengganti.
Idealnya, sepatu olahraga sudah bisa diganti setelah dipakai sejauh 500-600 kilometer. Juga, jika sol bawah mulai tipis dan sepatu dirasa tak nyaman lagi, sudah saatnya Anda ke toko lagi.
Berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa dijadikan acuan dalam memilih sepatu untuk berolahraga:
Jangan bikin sepatu multifungsi.
Sepatu untuk jalan biasanya lebih keras/padat; sepatu untuk olahraga (lari) lebih fleksibel, dengan bantalan ekstra untuk meredam efek getaran. Untuk kedua aktivitas itu, belilah masing-masing sepasang.
Ukur kaki secara berkala.
Jangan dikira ukuran kaki tidak berubah setelah dewasa. Menurut penelitian, makin hari ukuran kaki seseorang bisa berubah. Cek ulang ukuran kaki Anda minimal dua kali setahun.
Beli setelah beraktivitas.
(Ukuran) Kaki bisa berkembang tergantung pada aktivitas. Usahakan membeli sepatu ketika kaki dirasakan sedang dalam ukuran terbesarnya.
Bawa kaos kaki.
Karena kaos kaki menyempurnakan kenyamanan memakai sepatu, bawa kaos kaki yang biasa Anda pakai sehingga sepatu yang dijajal di toko pas dengan yang akan Anda pergunakan.
Jangan langsung merasa enak.
Jangan langsung jatuh hati pada sepatu yang ingin Anda beli hanya dengan mencobanya di depan cermin. Pakai dulu berjalan atau berlari di sekitar toko biar betul-betul enak memakainya saat berolahraga.
Sesuaikan aturan ibu jari.
Perhatikan jarak ideal sepatu dengan ibu jari kaki, punggung kaki, dan tumit kaki. Kalau terlalu longgar tentu akan selip, tapi terlalu ketat juga bisa bikin lecet.
Money doesn't lie.
Kebutuhan dan anggaran setiap orang untuk membeli sepatu olahraga pasti berbeda-beda. Tapi percaya deh, barang yang harganya Rp 50 ribu tentu berbeda kualitasnya dengan yang Rp 500 ribu.
Perhatikan kapan harus mengganti.
Idealnya, sepatu olahraga sudah bisa diganti setelah dipakai sejauh 500-600 kilometer. Juga, jika sol bawah mulai tipis dan sepatu dirasa tak nyaman lagi, sudah saatnya Anda ke toko lagi.
Minggu, 17 Oktober 2010
ProLiga Indonesia
Bagi para pecinta bolavoli Indonesia tentu tidak asing dengan kata ProLiga. Namun bagi sebagian orang masih bertanya-tanya, apa si ProLiga itu ?
ProLiga adalah satu-satunya even resmi bolavoli profesional yang ada di Indonesia. Even ini merupakan salah satu agenda rutin PBVSI yang menggandeng satu atau lebih sponsor dan disiarkan oleh satu atau beberapa stasiun televisi.
Even ini menggabungkan nilai olahraga bolavoli dengan entertaintment. Tujuannya untuk lebih memasyarakatkan olahraga bolavoli dan nantinya dapat menjadikan bolavoli sebagai salah satu media promosi yang bisa mudah diterima oleh masyarakat luas di Indonesia.
Setiap tim peserta ProLiga diwajibkan memberi nilai kontrak setiap atletnya secara profesional oleh manajemen. Nilai kontrak setiap atlet bisa sama ataupun berbeda, tergantung dari tingkat skill individu atlet dan negoisasinya.
Untuk dapat mengikuti ProLiga, setiap tim harus membayar biaya pendaftaran dan menyetorkan uang jaminan. Uang jaminan ini bertujuan untuk mengantisipasi setiap pelanggaran atau sikap “mogok” tidak melanjutkan pertandingan dari sebuah tim. Uang jaminan ini akan dikembalikan setelah even ProLiga selesai digelar.
Pertandingan dalam ProLiga dilaksanakan secara berpindah-pindah, umumnya di kota masing-masing basecamp tim pesertanya. Dalam even ProLiga dilaksanakan Babak penyisihan, Final Four dan Grand Final. Namun ada juga even yang selalu dinantikan banyak orang, yaitu babak Perang Bintang. Sesi perang bintang ini mempertandingkan 2 tim terbaik berdasarkan wilayah tim pesertanya, wilayah Timur dan Barat. Pemilihan para pemainnya pun tergolong unik, karena disamping penilaian panitia, pemain yang akan berlaga bisa dipilih oleh penonton melalui pooling sms.
Hadiah yang disediakan pihak panitia terbilang cukup besar, yaitu berkisar 100jt-200jt untuk juara I. Disamping hadiah yang diberikan bagi para juara, even ini juga memberi penghargaan bagi setiap atlet yang memiliki skill terbaik selama even berlangsung. Seperti Pemain terbaik, Service terbaik, Blocker terbaik, Libero terbaik, Spiker terbaik dan Pengumpul point terbanyak ( semacam top scorer ).
Penilaian terhadap skill terbaik dilakukan oleh para petugas khusus yang selalu mengamati pertandingan dipinggir lapangan sebagai panitia.
Penilaian terhadap skill terbaik dilakukan oleh para petugas khusus yang selalu mengamati pertandingan dipinggir lapangan sebagai panitia.
Retorika Pelatih Bolavoli
Pelatih merupakan central gravity dalam proses pelatihan. Seorang pelatih merupakan penentu segala kebijakan di lapangan mengenai proses berlatih melatih maupun segala proses yang menyangkut semua aspek dari atlit dan lingkungannya. Seorang pelatih harus mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi atlit, tentu saja persoalan seorang atlit akan sangat berbeda dengan atlit lainnya baik ditingkat junior dan senior.
Seorang pelatih haruslah bisamemecahkan masalah tanpa menimbulkan masalah lainnya dan tidak berdampak negative di kemudian hari, seorang atlit tidak akan rugi mengahdapi masa depannya sehingga masa depan yang cerah lambat laun akan digapai seiring dengan prestasi puncak yang dicapai saat atlit dewasa. Pelatih harus mampu memecahkan masalah yang dihadapi atlit, masalah saat ini masalah yang akan datang ataupun masalah setelah atlit tidak latihan lagi. Untuk tingkat remaja atau junior banyak sekali seorang atlit mengalami permasalahan yang berkaitan dengan urusan sekolah. Tahap atlit masih sekolah maka atlit harus mengikuti segala aturan dan acara disekolah yang bisa jadi acara tersebut berbenturan dengan jadwal latihan atau pertandingan.
Seorang pelatih harus mampu mengarahkan atlit untuk tetap mengikuti keseluruhan pelajaran sehingga atlit memiliki kemampuan akademis yang baik. Pelatih harus mau meluruskan sikap atlit yang tidak mau bersekolah karena masa depan yang berkaitan dengan pekerjaan sangat dipengaruhi oleh kemampuan akademis yang dimiliki. Sudah menjadi fenomena sebaik apapun keterampilan yang dimiliki atlit jika pendidikan hanya SMP / SMA kemungkinan besar akan menjadi secuirity padahal dari sisi keuangan atlit mencukupi untuk kuliah di perguruan tinggi.
Seorang pelatih harus mau mendahulukan pendidikan atlit dari pada prestasi bolavoli. Pelatih harus menyadari bahwa masa depan atlit lebih penting daripada prestasi yang hanya sesaat. Keputusan pelatih akan salah jika melarang atlitnya ikut ujian sekolah atau ujian nasional hanya karena ada kejuaraan tingkatnasional, walaupun ada alternative ujian kejar paket C tetapi lambat laun pelatih itu akan mengebiri masa depan atlit. Pelatih sangat salah apabila menanamkan pemikiran atlit agar menjadi tergila-gila dengan bolavoli sehingga atlit tersebut tidak mau sekolah atau kuliah dan tidak mau bekerja di instansi karena gajinya kecil, walaupun itu bisa sampai tua atlit lebih senang dengan hanya bermain bolavoli dengan bayaran tinggi tetapi itu tidak bisa dilakukan samapai tua.
Pelatih harus mau melepas atlit senior yang baik kemampuannya asalkan atlit mendapat tawaran pekerjaan yang menjanjikan harituanya. Ada beberapa pelatih yang tidak mau melepas atlitnya karena takut prestasinya akan menurun walaupun itu mengorbankan masa depan atlit. Pelatih yang baik akan selalu melatih atlit pemula sampai berprestasi tinggi untuk regenerasi atlit senior. Pelatih yang baik akan selalu mencarikan relasi ataupun mencarikan pekerjaan yang layak untuk atlitnya, bukan mencegah dan mempersulit atlitnya pindah klub untuk alasan pekerjaan.
Pelatih klub yang baik akan selalu membagi ilmu kepelatihannya kepada pelatih klub yang lain, agar klub menjadi berkembang dan tidak mati. Sudah menjadi fenomena penyomotan atlit berpotensi dari klub kecil oleh klub besar dengan iming-iming ikut dikompetisi tingkat nasional dan tanpa kompensasi yang jelas, ini tentusaja akan mematikan kehidupan klub kecil, ataupun itu memang disengaja untuk menciptakan suatu klub yang superior sehingga lambat laun klub kecil akan mati.
SPIKER VS BLOCKE
5 STRATEGI untuk SUCCESSFUL ATTACKING
Spiker yang baik adalah pemain yang memiliki variasi pukulan yang beragam dan mampu mengolah bola sehingga menghasilkan poin untuk timnya meski saat menghadapi situasi atau yang kondisi sulit sekalipun. Untuk menjadi spiker yang baik didalam tim, ada beberapa tehnik dan strategi yang seharusnya dikuasai oleh seorang pemain.
Untuk menerapkan tehnik dan strategi dibawah ini nantinya sangat tergantung pada keadaan riil dilapangan saat pertandingan yang sesuangguhnya. Disamping pengalaman bertanding, kejelian dan kecepatan berpikir seorang pemain dibutuhkan untuk implementasinya.
Beberapa tehnik dan strategi itu diantaranya adalah :
1. Jumping tinggi dan pukulan keras
Jika kamu bisa lompat tinggi dan memukul bola dengan keras, maka itu pasti akan membuat lawanmu merasa terintimidasi. Jumping tinggi juga akan memudahkan kamu dalam menentukan arah pukulan karena bisa melihat posisi lawan.
Dengan jumping yang tinggi tentunya akan memberikan kamu sudut yang lebih luas dalam meraih titik pukul bola. Pukulan keras akan mengurangi kecepatan reaksi lawan dalam bertahan dan menyulitkan mereka dalam meredam pukulan.
2. Spin BallPelajari posisi tangan untuk bisa melakukan top spin, side spin, dan no spin (float) pada bola.
Top spin itu penting karena dapat menghasilkan pukulan yang tajam/lebih cepat sampai tanah.
Untuk para pemain voli outdoor ( tanah ataupun pasir ), top spin selain bisa mempercepat bola untuk jatuh juga untuk mengarahkan pada saat ada pengaruh angin.
Untuk para pemain voli outdoor ( tanah ataupun pasir ), top spin selain bisa mempercepat bola untuk jatuh juga untuk mengarahkan pada saat ada pengaruh angin.
Side spin efektif untuk menentukan arah pukulan. Dapat membuat blok kewalahan karena pantulan bola tidak lurus. Side spin juga berguna untuk membuat pukulan tajam menyilang.
Back spin digunakan saat menghadapi blok yang rapat. Pemukul melakukan back spin agar bola memantul jauh ke belakang atau ke depan setelah mengenai blok.
3. Pukulan off-speed dan TipsUntuk menjadi spiker yang baik, kamu akan lebih baik jika bisa mengembangkan beberapa jenis pukulan yang berbeda dan jangan terlalu monoton dengan pukulan yang itu-itu saja.
Hal ini akan berguna untuk memecah konsentrasi lawan yang suka menduga-duga dengan jenis pukulan. Jika kamu mampu melakukan ini maka lawanmu akan tidak tahu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya.
Hal ini akan berguna untuk memecah konsentrasi lawan yang suka menduga-duga dengan jenis pukulan. Jika kamu mampu melakukan ini maka lawanmu akan tidak tahu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya.
Pukulan off-speed ( crop ) akan membingungkan karena lawan pasti mengira kamu akan melakukan smash keras. Melihat kondisi yang seperti ini, spiker yang baik hanya akan melakukan tehnik crop yaitu meletakkan bola persis dibelakang blok atau diposisi tengah yang sulit terjangkau lawan. Pukulan jenis ini akan sangat menipu dan tidak memberi lawan cukup waktu untuk bereaksi dengan cepat.
Kuncinya adalah dengan kamu memperlihatkan gerakan kaki dan ayunan tangan yang sama persis ketika saat anda akan melakukan smash keras, namun setelah bola itu berada di wilayah raihan tangan, baru dilakukan pukulan off-speed tersebut.
4. Joust / Dorong-dorongan diatas netSaat pertandingan berlangsung pasti akan ada saat dimana bola dari pengumpan itu terasa sangat dekat dengan net dan blok dari lawan. Spiker perlu belajar untuk menghadapi situasi seperti ini.
Beberapa spiker akan langsung mencoba melakukan dorongan sekuat mungkin terhadap blok. Namun hal ini tidak selalu bisa memenangkan situasi.
Beberapa spiker akan langsung mencoba melakukan dorongan sekuat mungkin terhadap blok. Namun hal ini tidak selalu bisa memenangkan situasi.
Cara yang lebih baik adalah tetap menunggu sampai pada detik yang tepat untuk mendorong bola. Jangan arahkan bola pada telapak tangan bloker, tapi arahkan pada bagian pergelangan tangan atau lengan.
Pemain yang memiliki postur kecil pada umumnya akan relative sering memenangkan situasi karena mereka memiliki sudut yang lebih baik dalam menghasilkan dorongan yang kuat.
5. Touch Out (wipe off)Jika kamu adalah pemain yang kurang bagus dan menghadapi blok yang tinggi dan bagus, tehnik yang baik dilakukan adalah melakukan ‘touch out’. Hal ini akan efektif jika menghadapi bola yang kurang baik dari pengumpan dan blok yang tinggi hingga berusaha masuk kedalam wilayah kita.
Tehnik melakukannya adalah bersikap menunggu bola dan jangan tergesa-gesa meraih bola yang memang susah untuk dipukul tersebut. Biarkan lawan melakukan raihan, kita lebih diuntungkan pada posisi ini karena peraturan ‘over net’.
Tunggu sampai bloker melewati titik puncak lompatan dan sedetik setelah itu pasti bloker akan menurun. Nah disaat inilah saat yang terbaik melakukan ‘touch out’. Buang bola kearah luar dengan memantulkan atau menyerempet tangan bloker.
Tunggu sampai bloker melewati titik puncak lompatan dan sedetik setelah itu pasti bloker akan menurun. Nah disaat inilah saat yang terbaik melakukan ‘touch out’. Buang bola kearah luar dengan memantulkan atau menyerempet tangan bloker.
TAKTIK PERMAINAN BOLA VOLI
A. MEMPELAJARI & MENGANALISA TEKNIK LAWAN
1. ATTACK/SERANGAN
Kebiasaan dari Spiker Lawan, siapa yang harus diperhatikan (Safe attackernya)
- Pola dari serangan lawan.
- Perhatikan ‘faint ball’, apakah attacker lawan mempergunakan faint ball atau tidak.
- Apakah regu lawan mempergunakan ‘Strong Spike, Weak Spike atau Rebound Spike’.
2. SERVICE
Jenis dari Service lawan
- Apakah lawan bisa mengendalikan service
- Kemampuan untuk mengetahui corak service dari pemain cadangan lawan.
3. RECEIVE
Bagaimana formasi dari receive attack regu lawan
- Perhatikan daerah yang kosong
- Menentukan pemain mana yang lemah dari lawan
- Bagaimana formasi dari service regu lawan (small)
- Service mana yang paling effektif terhadap lawan (lancip)
- Tempat yang lemah dari formasi service receive (tumpul)
- Bagaimana pergerakan dari tosser lawan
- Kemampuan pergerakan dari pada pemain lawan
4. BENDUNGAN/BLOCKING
Berapa Block yang bisa dilakukan oleh lawan
- Perhatikan formasi yang terlemah/terkuat/tinggi/rendah dari blocking yang dilakukan oleh lawan
- Catatan terperinci untuk melihat kekuatan pemain lawan dalam melakukan blocking
- Jenis blocking lawan, apakah menekan atau mendorong. Bila blocking lawan menekan, cover regu kita harus dekat, tetapi bila mendorong, cover regu kita harus jauh
5. C O V E R
Formasi cover dari regu lawan, dekat, jauh atau sama sekali tidak ada cover
- Pergerakkan tosser, jauh atau dekat dari block dan amati kelemahan gerak dari tosser tersebut, karena biasanya tosser merupakan cover utama karena kemudahan geraknya
6. KEMAMPUAN TOSSER
Perhatikan kestabilan dari tosser lawan
- Amati kemampuan dari tosser, apakah bisa memberikan variasi toss atau tidak
- Perhatikan pula tinggi atau rendah bola yang di toss
B. MEMPELAJARI & MENGANALISA KONDISI LAWAN
1. KEMAMPUAN & KONDISI FISIK LAWAN
Perhatikan tinggi badan dari tosser lawan
- Daya lompat dan kecepatan lompat dari setiap pemain lawan
- Stamina pihak lawan
- Kondisi perorangan maupun beregu
- Apakah kondisi fisik mereka melebihi pemain regu kita
2. KEMAMPUAN MENTAL LAWAN
Bagaimana Start suatu pertandingan : baik atau tidak
- Amati sebab² regu lawan mendapat point
- Apakah Safe Attacker lawan mempunyai mental yang kuat
- Dalam keadaan bagaimana coach lawan minta time out
- Taktik apa yang dipergunakan itu, kebiasaan² dari taktik pihak lawan, bagaimana cara pergantiannya
TAKTIK & KONDISI REGU KITA
1. ASPEK TEKNIK
Pematangan dari pada Formasi Menyerang maupun Bertahan
- Pematangan Teknik² tertentu
- Melenyapkan kelemahan² regu dan mempersiapkan pemain untuk menjalankan fungsi sebenarnya
2. ASPEK FISIK
- Menyembuhkan/melenyapkan keadaan lelah dari pemain, sehingga selalu berada dalam kondisi top performance
- Membuat regu dalam kondisi yang baik ketika menghadapi pertandingan
- Menghindarkan pemain dari cedera
- Memberikan variasi latihan yang tidak membosankan
- Berikan istirahat aktif saat 3 hari sebelum bertanding
3. ASPEK MENTAL
Memupuk kepercayaan pada diri sendiri, untuk setiap pemain
- Memberikan dorongan sehingga akan menyadarkan pada kemampuan dari masing² pemain
- Mengurangi ketegangan sebelum pertandingan dan membangkitkan semangat regu
- Memberi nasehat bagi pemain yang gugup
- Relaksasi , rekreasi
4. MELAKUKAN TIME OUT
Bila kehilangan 3 angka berturut²
- Bila regu kita dalam keadaan kacau/bingung
- Serangan kombinasi regu kita, dimana safe attacker tidak pada tempatnya
- Apabila terjadi perubahan pada taktik lawan
- Bila ingin menggunakan salah satu taktik guna memenangkan game yang sedang berlangsung
- Bila ingin melakukan pukulan secara psychologis terhadap kubu lawan
- Bila ingin menginstruksikan cara untuk menghadapi lawan
- Bila pemain kita dalam kondisi lemah dan tidak mempunyai rasa percaya diri serta dalam kondisi tertekan
5. MEMPERGUNAKAN TIME OUT YANG BAIK
Perlihatkan wajah yang tenang pada saat time out, boleh melakukan tindakan yang keras, humor atau nasehat² yang bermanfaat untuk semua pemain
- Menenangkan pemain yang terlihat panik
- Menginstruksikan Counter Attack
- Menginstruksikan segi² teknik dalam permainan
- Usahakan untuk meningkatkan konsentrasi permainan beregu
6. PERGANTIAN PEMAIN
Mengistirahatkan pemain inti yang bermain dibawah kemampuannya, serta memberikan teguran pada pemain inti tersebut
- Penggantian pemain dengan pemain yang mempunyai teknik khusus, mis. Pemain dengan pukulan Strong Spike ditukar dengan pemain yang mempunyai keahlian Faint Ball, atau sebaliknya tergantung dari tipe regu lawan
- Memberikan pengalaman kepada pemain cadangan
- Untuk mendapatkan angka dari service, lakukan penggantian server dengan pemain cadangan yang mempunyai kemampuan service yang baik
7. MEMPERGUNAKAN WAKTU ANTAR SET
Berikan petunjuk tentang kelemahan pada game yang lalu serta diskusikan dengan pemain, selama istirahat antar set
- Merubah formasi atau pola permainan apabila diperlukan
- Membangun semangat apabila :
- Game sebelumnya kalah : lebih hati², jangan pesimis
- Game sebelumnya menang : lebih konsentrasi, jangan anggap remeh
8. PERTEMUAN SESUDAH PERTANDINGAN
Memberikan petunjuk baik individu maupun tim
- Walaupun menang atau kalah diskusi harus tetap dilakukan
- Tanyakan berapa banyak kemampuan yang telah dikeluarkannya dalam pertandingan yang telah berlalu, bila dalam latihan kemampuan atlit harus dikeluarkan 100%, maka dalam pertandingan seorang pemain mengeluarkan kemampuan 70% – 80% sudah baik, tetapi bila dibawah 70% pemain tersebut harus diberi teguran
MEMPERGUNAKAN WAKTU 3 – 5 MENIT SEBELUM PERTANDINGAN
Telitilah keadaan lapangan dan pantulan net
- Perhatikan batas² dari lapangan serta ketinggian net
- Bangkitkan rasa percaya diri kepada pemain terutama safe attackernya
- Pemain² inti harus lebih diutamakan dalam penguasaan spike
- Berikan kesempatan untuk service kepada pemain, agar pemain lebih tenang
- Membangun semangat regu dengan melakukan latihan receive dan toss exercise
- Mengulangi tiap item dari teknik yang akan dipergunakan dengan jalan menanyakannya kepada para pemain inti
Demikianlah hal² yang perlu diperhatikan oleh Coach didalam melaksanakan Coaching yang baik.
Rabu, 06 Oktober 2010
Sejarah Bola Voli
William G. Morgan (1870-1942), yang lahir di Negara Bagian New York, telah tercatat dalam sejarah sebagai penemu permainan bola voli, yang dia awalnya memberi nama “Mintonette”.
Morgan muda melaksanakan studi sarjana di Springfield College of the YMCA (Young Men’s Christian Association) di mana ia bertemu dengan James Naismith yang, pada tahun 1891, telah menemukan basket. Setelah lulus, Morgan menghabiskan tahun pertama di Auburn (Maine) YMCA setelah itu, selama musim panas tahun 1895, ia pindah ke YMCA di Holyoke (Massachusetts) di mana ia menjadi Direktur Pendidikan Jasmani. Dalam peran ini dia memiliki kesempatan untuk mendirikan mengembangkan, dan mengarahkan program besar latihan dan olahraga kelas-kelas untuk laki-laki dewasa.
Kepemimpinannya dengan antusias diterima, dan kelas tumbuh dalam angka. Dia datang untuk menyadari bahwa ia memerlukan suatu jenis permainan rekreasi kompetitif untuk program-nya bervariasi. Basket, olahraga yang mulai berkembang, tampaknya cocok anak muda, tapi itu perlu untuk menemukan kurang keras dan kurang intens alternatif bagi anggota yang lebih tua.
Pada waktu itu Morgan sama tidak tahu permainan bola voli yang bisa menuntunnya; ia mengembangkan dari olahraga sendiri metode pelatihan dan pengalaman praktis di YMCA olahraga. Menggambarkan eksperimen pertama ia berkata: “Dalam mencari permainan yang sesuai, tenis terjadi kepada saya, tapi ini diperlukan raket, bola, bersih dan peralatan lainnya, jadi sudah dihilangkan – tapi gagasan tampaknya bersih yang baik. Kami mengangkatnya ke ketinggian sekitar 6 kaki 6 inci (lm.98) dari tanah, tepat di atas kepala laki-laki rata-rata. Kami membutuhkan sebuah bola, dan di antara mereka yang kita coba adalah bola basket kandung kemih, tapi ini terlalu terang dan terlalu lambat, karena itu kami mencoba basket itu sendiri, yang terlalu besar dan terlalu berat “.
Pada akhirnya, Morgan meminta perusahaan dari AG Spalding
Awal tahun 1896 konferensi diselenggarakan di YMCA College di Springfield, menyatukan semua Direksi YMCA Pendidikan Jasmani. Dr Luther Halsey Gulick, Direktur profesional sekolah pelatihan pendidikan jasmani (dan juga Direktur Eksekutif Departemen Pendidikan Jasmani dari Komite Internasional YMCA’s) diundang Morgan untuk membuat demonstrasi permainan di stadion perguruan tinggi baru. Morgan mengambil dua tim, masing-masing terdiri dari lima laki-laki (dan beberapa penggemar setia) ke Springfield, di mana demonstrasi itu dilakukan sebelum konferensi delegasi di Gimnasium Timur. Kapten dari salah satu tim itu J.J. Curran dan lain John Lynch yang masing-masing, Walikota dan Kepala Pemadam Kebakaran dari Holyoke.
Morgan menjelaskan bahwa permainan yang baru ini dirancang untuk gedung olah raga atau balai latihan, tetapi juga bisa dimainkan di udara terbuka. Jumlah tidak terbatas pemain dapat berpartisipasi – objek dari permainan yang menjaga gerakan bola di atas net yang tinggi, dari satu sisi ke sisi lain.
Setelah melihat demonstrasi, dan mendengar penjelasan dari Morgan, Profesor Alfred T. Halstead meminta perhatian pada tindakan, atau tindakan fase, bola penerbangan, dan mengusulkan bahwa nama “Mintonette” digantikan dengan “Volley Ball”. Nama ini diterima oleh Morgan dan konferensi. (Adalah menarik untuk dicatat bahwa nama yang sama telah bertahan selama bertahun-tahun, dengan sedikit perubahan: pada tahun 1952, Komite Administrasi dari USVBA memilih untuk mengeja nama dalam satu kata, “Volleyball”, tetapi terus menggunakan USVBA untuk menandakan Amerika Serikat Voli Association).
Mr Morgan menjelaskan aturan dan bekerja pada mereka, lalu memberikan salinan tertulis tangan untuk konferensi ke konferensi YMCA direktur pendidikan jasmani, sebagai panduan untuk penggunaan dan pengembangan permainan. Sebuah komite ditunjuk untuk mempelajari aturan dan menghasilkan saran-saran untuk promosi permainan dan mengajar.
Perkembangan
Pendidikan Fisik Direktur YMCA, terutama didorong oleh dua sekolah profesional pendidikan jasmani, Springfield kuliah di Massachusetts dan George Williams College di Chicago (sekarang di Downers Grove, Illinois), diadopsi Bola Voli dalam semua masyarakat di seluruh Amerika Serikat, Kanada ( pada 1900 Kanada menjadi negara asing pertama untuk mengadopsi permainan), dan juga di banyak negara lain: Elwood S. Brown di Filipina (1910), J. Howard Crocker di Cina, Franklin H. Brown di Jepang (1908), Dr JH Abu-abu di Burma, di Cina dan di India, dan prekursor lain di Meksiko, Amerika Selatan, Eropa dan negara-negara Afrika.
Pada 1913, perkembangan Bola Voli di benua Asia diyakinkan sebagai, pada tahun itu, permainan ini dimasukkan pada program pertama Timur Jauh-Games, yang diselenggarakan di Manila. Perlu dicatat bahwa, untuk waktu yang lama, bola voli dimainkan di Asia menurut “Brown” aturan yang, antara lain, digunakan enam belas pemain (untuk memungkinkan partisipasi yang lebih besar dalam pertandingan).
Indikasi pertumbuhan Voli di Amerika Serikat diberikan dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 1916 di Voli Spalding Panduan dan ditulis oleh Robert C Cubbon. Dalam artikel Cubbon memperkirakan bahwa jumlah pemain yang telah mencapai total 200.000 orang dibagi dengan cara sebagai berikut: di YMCA (anak-anak, pemuda, dan orang tua) 70.000; di YWCA (gadis dan perempuan) 50.000; di sekolah-sekolah (anak laki-laki dan perempuan) 25,000 dan di perguruan tinggi (laki-laki muda) 10.000.
Pada 1916, YMCA berhasil membujuk Nasional yang kuat Collegiate Athletic Association (NCAA) untuk menerbitkan peraturan dan serangkaian artikel, memberikan kontribusi bagi pertumbuhan pesat bola voli di kalangan kaum muda mahasiswa. Pada 1918 jumlah pemain setiap tim adalah terbatas pada enam, dan pada tahun 1922 jumlah maksimum yang berwenang kontak dengan bola itu tetap di tiga.
Sampai awal tiga puluhan voli adalah untuk sebagian besar permainan waktu luang dan rekreasi, dan hanya ada beberapa kegiatan dan kompetisi internasional. Ada aturan yang berbeda dari permainan di berbagai belahan dunia, namun dimainkan kejuaraan nasional di banyak negara (misalnya, di Eropa Timur di mana tingkat permainan telah mencapai standar yang luar biasa) Voli sehingga menjadi lebih dan lebih yang kompetitif olahraga dengan tinggi kinerja fisik dan teknis.
Morgan muda melaksanakan studi sarjana di Springfield College of the YMCA (Young Men’s Christian Association) di mana ia bertemu dengan James Naismith yang, pada tahun 1891, telah menemukan basket. Setelah lulus, Morgan menghabiskan tahun pertama di Auburn (Maine) YMCA setelah itu, selama musim panas tahun 1895, ia pindah ke YMCA di Holyoke (Massachusetts) di mana ia menjadi Direktur Pendidikan Jasmani. Dalam peran ini dia memiliki kesempatan untuk mendirikan mengembangkan, dan mengarahkan program besar latihan dan olahraga kelas-kelas untuk laki-laki dewasa.
Kepemimpinannya dengan antusias diterima, dan kelas tumbuh dalam angka. Dia datang untuk menyadari bahwa ia memerlukan suatu jenis permainan rekreasi kompetitif untuk program-nya bervariasi. Basket, olahraga yang mulai berkembang, tampaknya cocok anak muda, tapi itu perlu untuk menemukan kurang keras dan kurang intens alternatif bagi anggota yang lebih tua.
Pada waktu itu Morgan sama tidak tahu permainan bola voli yang bisa menuntunnya; ia mengembangkan dari olahraga sendiri metode pelatihan dan pengalaman praktis di YMCA olahraga. Menggambarkan eksperimen pertama ia berkata: “Dalam mencari permainan yang sesuai, tenis terjadi kepada saya, tapi ini diperlukan raket, bola, bersih dan peralatan lainnya, jadi sudah dihilangkan – tapi gagasan tampaknya bersih yang baik. Kami mengangkatnya ke ketinggian sekitar 6 kaki 6 inci (lm.98) dari tanah, tepat di atas kepala laki-laki rata-rata. Kami membutuhkan sebuah bola, dan di antara mereka yang kita coba adalah bola basket kandung kemih, tapi ini terlalu terang dan terlalu lambat, karena itu kami mencoba basket itu sendiri, yang terlalu besar dan terlalu berat “.
Pada akhirnya, Morgan meminta perusahaan dari AG Spalding
Awal tahun 1896 konferensi diselenggarakan di YMCA College di Springfield, menyatukan semua Direksi YMCA Pendidikan Jasmani. Dr Luther Halsey Gulick, Direktur profesional sekolah pelatihan pendidikan jasmani (dan juga Direktur Eksekutif Departemen Pendidikan Jasmani dari Komite Internasional YMCA’s) diundang Morgan untuk membuat demonstrasi permainan di stadion perguruan tinggi baru. Morgan mengambil dua tim, masing-masing terdiri dari lima laki-laki (dan beberapa penggemar setia) ke Springfield, di mana demonstrasi itu dilakukan sebelum konferensi delegasi di Gimnasium Timur. Kapten dari salah satu tim itu J.J. Curran dan lain John Lynch yang masing-masing, Walikota dan Kepala Pemadam Kebakaran dari Holyoke.
Morgan menjelaskan bahwa permainan yang baru ini dirancang untuk gedung olah raga atau balai latihan, tetapi juga bisa dimainkan di udara terbuka. Jumlah tidak terbatas pemain dapat berpartisipasi – objek dari permainan yang menjaga gerakan bola di atas net yang tinggi, dari satu sisi ke sisi lain.
Setelah melihat demonstrasi, dan mendengar penjelasan dari Morgan, Profesor Alfred T. Halstead meminta perhatian pada tindakan, atau tindakan fase, bola penerbangan, dan mengusulkan bahwa nama “Mintonette” digantikan dengan “Volley Ball”. Nama ini diterima oleh Morgan dan konferensi. (Adalah menarik untuk dicatat bahwa nama yang sama telah bertahan selama bertahun-tahun, dengan sedikit perubahan: pada tahun 1952, Komite Administrasi dari USVBA memilih untuk mengeja nama dalam satu kata, “Volleyball”, tetapi terus menggunakan USVBA untuk menandakan Amerika Serikat Voli Association).
Mr Morgan menjelaskan aturan dan bekerja pada mereka, lalu memberikan salinan tertulis tangan untuk konferensi ke konferensi YMCA direktur pendidikan jasmani, sebagai panduan untuk penggunaan dan pengembangan permainan. Sebuah komite ditunjuk untuk mempelajari aturan dan menghasilkan saran-saran untuk promosi permainan dan mengajar.
Perkembangan
Pendidikan Fisik Direktur YMCA, terutama didorong oleh dua sekolah profesional pendidikan jasmani, Springfield kuliah di Massachusetts dan George Williams College di Chicago (sekarang di Downers Grove, Illinois), diadopsi Bola Voli dalam semua masyarakat di seluruh Amerika Serikat, Kanada ( pada 1900 Kanada menjadi negara asing pertama untuk mengadopsi permainan), dan juga di banyak negara lain: Elwood S. Brown di Filipina (1910), J. Howard Crocker di Cina, Franklin H. Brown di Jepang (1908), Dr JH Abu-abu di Burma, di Cina dan di India, dan prekursor lain di Meksiko, Amerika Selatan, Eropa dan negara-negara Afrika.
Pada 1913, perkembangan Bola Voli di benua Asia diyakinkan sebagai, pada tahun itu, permainan ini dimasukkan pada program pertama Timur Jauh-Games, yang diselenggarakan di Manila. Perlu dicatat bahwa, untuk waktu yang lama, bola voli dimainkan di Asia menurut “Brown” aturan yang, antara lain, digunakan enam belas pemain (untuk memungkinkan partisipasi yang lebih besar dalam pertandingan).
Indikasi pertumbuhan Voli di Amerika Serikat diberikan dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 1916 di Voli Spalding Panduan dan ditulis oleh Robert C Cubbon. Dalam artikel Cubbon memperkirakan bahwa jumlah pemain yang telah mencapai total 200.000 orang dibagi dengan cara sebagai berikut: di YMCA (anak-anak, pemuda, dan orang tua) 70.000; di YWCA (gadis dan perempuan) 50.000; di sekolah-sekolah (anak laki-laki dan perempuan) 25,000 dan di perguruan tinggi (laki-laki muda) 10.000.
Pada 1916, YMCA berhasil membujuk Nasional yang kuat Collegiate Athletic Association (NCAA) untuk menerbitkan peraturan dan serangkaian artikel, memberikan kontribusi bagi pertumbuhan pesat bola voli di kalangan kaum muda mahasiswa. Pada 1918 jumlah pemain setiap tim adalah terbatas pada enam, dan pada tahun 1922 jumlah maksimum yang berwenang kontak dengan bola itu tetap di tiga.
Sampai awal tiga puluhan voli adalah untuk sebagian besar permainan waktu luang dan rekreasi, dan hanya ada beberapa kegiatan dan kompetisi internasional. Ada aturan yang berbeda dari permainan di berbagai belahan dunia, namun dimainkan kejuaraan nasional di banyak negara (misalnya, di Eropa Timur di mana tingkat permainan telah mencapai standar yang luar biasa) Voli sehingga menjadi lebih dan lebih yang kompetitif olahraga dengan tinggi kinerja fisik dan teknis.











